Archive for September, 2015

Kukira Itu Mendung

Tiap-tiap hari aku masih saja penasaran
Apakah hari mendung? Mungkin segera hujan
Kudapati siang begitu usang
Bagai foto lama yang lebih sering hilang

Di sini kami menjadi pesakitan
Dibakar habis semua hutan-hutan
Teso nilo segera menjadi kenangan
Madu sialang lenyap dari buah tangan

Memang apa salahku?
Kau umbar-umbar asapmu menghalang-halangi langit biruku?
Hampir setahun kau olok-olok kami
Kau Siperusak lumbung padi!

Apakah upah tikus jahat?
Tempat penjagalan orang-orang jahat!
Berjuta-juta orang ditelan serigala
Yang punya pedang ketawa-ketiwi saja

Ampun sembah kami pada Yang Kuasa
Gunung Batu Yang Perkasa!
Tempat pengungsian orang-orang sesak tak berdaya.

 

NB: Memperingati 18 Tahun Kejahatan Pembakaran Hutan Sumatera-Kalimantan.

Advertisements

September 30, 2015 at 7:55 pm Leave a comment

Nafsu Kecupan Terakhir

Aku mengenang terakhir kali tentang kita
Saat kusuapkan cinta yang abadi padamu,
dan,
Kutuangkan pengorbanan yang sejati untuk dahagamu.

Sebelum engkaupun, aku juga membuat awan cinta untuk para kekasihku
Itu supaya rambutnya tidak rusak kar’na panasnya siang hari
dan,
Kurawat kaki-kaki kuatnya sehingga lembut,
Duhai kekasih-kekasihku itu.

Aku tahu ini pengakhiran tentang engkau
Kita tidak akan bertemu dan berpelukan untuk mengenang lagi lagu cinta
Aku tahu kar’na kau ‘tak berpengalaman tentang itu
Padahal aku sudah berikan yang tidak akan kau temui pada yang lain
Emas murni yang tidak berkarat, hanya dariku itu!

Tetapi, baru saja perempuan jahat itu membuka satu kasut kakinya,
aku kau campakkan!
Hargaku terlalu murah bagimu!

Ketika kau cium pipiku penuh nafsu,
Aku sudah tahu, itu tanda terakhir kita bersama sebagai kekasih
Kau akhirnya membuang aku,
Kau membuangku seperti barang, seperti barang yang tidak terpakai
Persis seperti kekasih-kekasihku dulu,
Padahal, hanya aku seorang kekasih yang setia.

Aku ini tidak akan berhenti padamu,
Aku telah berjanji untuk memberikan cinta pada kekasih-kekasihku,
Matamu telah rusak parah oleh perempuan jahat itu,
Cintaku yang sejati itu tidak kau ingat-ingat lagi,
Telah buta untuk membaca surat cintaku!

Maaf saja, Aku tidak mau padamu lagi!
Kini,
Kau kan kusimpan di tempat yang tergelap, di dasar lautan atlantik.

Aku ‘kan pergi pada yang lain,
Yang mendengar suaraku,
Yang mau setia padaku,
Dikeabadian cinta kami berkasih mesra.

nb: The Last Kiss of Our Lord.

September 17, 2015 at 3:18 am Leave a comment


Because I Learn CI and Jquery

http://api.jquery.com

http://www.grocerycrud.com

http://Zedwood.com

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d bloggers like this: