Posts filed under ‘Religion’

Cerpen: Si Pongah (datok Mangago)

Alkisah di sebuah pulau nan indah hiduplah seorang raja yang bernama Nda’arok. Raja Nda’arok menguasai pulau yang indah tersebut, dia mempunyai segala sesuatu untuk kebutuhan hidupnya dan seluruh pembantunya. Dari perkawinannya Sang raja mempunyai 2 orang anak, anak yang pertama bernama datok To’diri, sedangkan yang bontot bernama datok Mangago. Keduanya hidup dalam asuhan orang tuanya hingga mereka dewasa.

Adalah kebiasaan di tempat mereka untuk membagi warisan bilamana tiba bagi sang anak untuk hidup mandiri dalam rumah  tangga masing-masing. Sang raja memberikan warisan kepada kedua anaknya tersebut sama banyak, walaupun telah di bagi-bagi, tetap saja Sang raja dapat hidup berkecukupan, tanpa kurang satu apapun, bahkan berlebih-lebih.

Suatu waktu pergilah datok Mangago meninggalkan pulau untuk berjalan-jalan, dalam perjalanannya tersebut ia membawa bekal yang cukup untuk memulai usaha, bahkan bilapun dia tidak berusaha, tetap saja cukup untuk hidupnya dan 7 keturunan lagi. Singgalah datok Mangago pada suatu daratan, tempat tersebut tidak seindah dan tidak sekaya pulau mereka, tetapi cukup baginya untuk memulai usahanya.
Seorang yang berasal dari pulau tersebut mudah ditandai, sebab ada gelang merah dari akar, tetapi karena merasa malu dengan bentuk gelang tersebut, datok Mangago melepaskannya dan menggantinya dengan gelang emas yang besar nan indah.
Mulailah ia dengan kehidupan barunya, segala sesuatu berjalan dengan baik hingga pada akhirnya ia kehilangan daya tarik dengan tempat itu, sebab telah banyak hartanya, ia ingin tinggal di tempat yang menenangkan hatinya, jelas saja dia terfikir tentang pulau yang telah di tinggalkannya tersebut, tempat sanak keluarganya tingggal.

Berangkatlah datok Mangago ke pulau tempat sanak keluarganya, seluruh hartanya dibawanya, termasuk istri, anak dan pembantunya. Dalam perjalanan dia berfikir untuk tinggal dan berkuasa di pulau tersebut, maka ia merancang suatu cara agar orang yang berkuasa di pulau tersebut memberikan lahan baginya dengan cara dibeli. dato Mangago menghitung seluruh hartanya, fikirnya itu akan cukup membeli tempat indah tersebut, sehingga dia akan berkuasa disana.

Setelah tiba di pintu gerbang masuk pulau tersebut, penjaga pintu menghambat masuknya dato Mangago dan rombongannya. Kepala pasukan bertanya tentang maksud kedatangannya, kemudia datok Mangago menjelaskan padanya bahwa dia adalah anak raja Nda’arok, yang artinya dia adalah pangeran di pulau tersebut. Oleh karena dato Mangago tidak memakai gelang merah sebagai tanda warga tempat itu, maka Kepala penjaga tersebut tidak mengizinkannya masuk.
Kepala penjaga tersebut melaporkan masalah tersebut pada raja, Sang rajapun mendatangi anaknya itu, betul saja seperti yang dikatakan penjaga tersebut, bahwa tidak ada tanda pengenal pada datok Mangago. Ayahnya menyarankan datok Mangago untuk menggunakan tanda itu, agar sang anak dan seluruh rombongannya dapat tinggal bebas di pulau itu. Tetapi karena kesombongannya sang anak tidak ingin menuruti aturan itu, dan ingin menguasai dengan caranya sendiri, yaitu dengan kekuatannya saat ini.

Dengan penuh keinginan, datok Mangago mengatur rencana untuk menggulingkan ayahnya itu, ia juga mengajak kakaknya untuk bersama menggulingkan ayahnya, tetapi kakaknya menolak, sebab dia tahu ayahnya adalah orang yang kaya dan baik, dia memberi tanpa butuh balasan. Akhirnya tibalah saatnya datok Mangago melakukan penyerangan, dalam penyerangannya tersebut, dia berhasil membunuh setengan dari pasukan penjaga pulau tersebut, setelah itu dia mundur untuk menyusun penyerangan lainnya.

Sang raja begitu murka dengan pemberontakan anaknya tersebut, sang raja menyerukan agar setiap penjaga mempersiapkan segala sesuatu untuk bertahan dari penyerangan. Selanjutnya datok Mangago melakukan penyerangannya yang lain, dia dengan seluruh pasukannya masuk dan memporak-porandakan pulau tersebut, tapi hari itu adalah naas bagi mereka, sang raja dengan segala kekuatan dan pasukannya menghadang dan bertempur, pada pertepuran itu sang raja berhasil menaklukkan pasukan datok Mangago, kemudian ditangkapnya anaknya itu.

Datok Mangago kini ada dalam tahanan sang raja. Sang raja masih menginginkan anaknya untuk kembali padanya, tetapi ia berkeras bahwa tidak baik baginya untuk menerima begitu saja pemberian ayahnya itu, sebab diapun mempunyai banyak harta hasil dari usahanya di perantauan. Ayahnya menangis mendengar bahwa anaknya tidak mau menerima pemberian cuma-cuma itu. Ayahnya berkata “sudah banyak yang ingin membeli tempat di pulau ini, tapi mereka tidak punya cukup uang untuk membeli sebidang tanah untuk mendirikan pondoknya, tapi aku memintamu anakku untuk tinggal disini tetapi kau ingin seperti yang lain”.

Oleh karena datok Mangago tidak menghiraukan ayahnya, sang rajapun mengusirnya dari pulau tersebut, sebagai suatu tanda ketidaksukaannya pada keangkuhan anaknya itu, ia juga memerintahkan penjaga untuk membunuh anaknya itu bila telah di luar pulau, sebab dia tidak ingin mencemarkan tanah itu dari darah seorang pembangkang. Akhir kisah, kakaknya, datok  To’diri hidup bersama ayahnya dengan penuh kesukaan sepanjang masa, sedangkan adiknya mati dengan kebodohannya.

Advertisements

May 22, 2016 at 9:37 pm Leave a comment

Nafsu Kecupan Terakhir

Aku mengenang terakhir kali tentang kita
Saat kusuapkan cinta yang abadi padamu,
dan,
Kutuangkan pengorbanan yang sejati untuk dahagamu.

Sebelum engkaupun, aku juga membuat awan cinta untuk para kekasihku
Itu supaya rambutnya tidak rusak kar’na panasnya siang hari
dan,
Kurawat kaki-kaki kuatnya sehingga lembut,
Duhai kekasih-kekasihku itu.

Aku tahu ini pengakhiran tentang engkau
Kita tidak akan bertemu dan berpelukan untuk mengenang lagi lagu cinta
Aku tahu kar’na kau ‘tak berpengalaman tentang itu
Padahal aku sudah berikan yang tidak akan kau temui pada yang lain
Emas murni yang tidak berkarat, hanya dariku itu!

Tetapi, baru saja perempuan jahat itu membuka satu kasut kakinya,
aku kau campakkan!
Hargaku terlalu murah bagimu!

Ketika kau cium pipiku penuh nafsu,
Aku sudah tahu, itu tanda terakhir kita bersama sebagai kekasih
Kau akhirnya membuang aku,
Kau membuangku seperti barang, seperti barang yang tidak terpakai
Persis seperti kekasih-kekasihku dulu,
Padahal, hanya aku seorang kekasih yang setia.

Aku ini tidak akan berhenti padamu,
Aku telah berjanji untuk memberikan cinta pada kekasih-kekasihku,
Matamu telah rusak parah oleh perempuan jahat itu,
Cintaku yang sejati itu tidak kau ingat-ingat lagi,
Telah buta untuk membaca surat cintaku!

Maaf saja, Aku tidak mau padamu lagi!
Kini,
Kau kan kusimpan di tempat yang tergelap, di dasar lautan atlantik.

Aku ‘kan pergi pada yang lain,
Yang mendengar suaraku,
Yang mau setia padaku,
Dikeabadian cinta kami berkasih mesra.

nb: The Last Kiss of Our Lord.

September 17, 2015 at 3:18 am Leave a comment

Bagaimana Kau Mengenal Hujan?

miriadna.com

miriadna.com

Hujan turun dimana dan bilamana saja dia mau
Biarkan saja dia turun, apakah akan jadi penyejuk dahaga ataukah jadi petaka
Bila dia telah turun, maka yang menangis akan semakin meratap, yang bersedih akan akan mengabil selimut ganti sapu tangannya dan yang berpesta meninggalkan meja-sajinya

Siapa yang tahan dengan deruhannya dan anggukan serta ratapan yang menghentak-hentak itu?
Yang bersedih dan menangis merindukannya sebagai teman untuk meratap, tapi yang berpesta mengutuknya. Tetapi derainya kian semarak!

Aku heran dan selalu heran,
setiap rintiknya membuatku bertanya-tanya
Tangan siapakah gerangan yang meletakkan keran air diatas sana itu dan turun dengan cuma-cuma?
Mengapa tidak pakai PAM saja untuk mengairi tiap-tiap petak tanah layaknya Giza?
Sebab terlalu banyak orang yang kesal berkata “Sial, yang kujemur telah basah dan jadi busuk, ini tidak dapat kujual lagi sebab air turun dari atas!”

Lalu Dia menjawab “Adakah kau satu-satunya yang tidak tahu akan datang hujan dengan tanda hembusan angin dan awan di langit?
AKU sudah katakan itu akan jadi cuma-cuma saja bagimu, tetapi kau berlindung di bawah pohon kering?
Akarmu akan gemuk jika kau meminum air itu, tapi kau akan seperti pohon mati kering yang segera jadi sarang kutu bila kau memuntahkannya”

May 19, 2015 at 11:57 pm Leave a comment


Because I Learn CI and Jquery

http://api.jquery.com

http://www.grocerycrud.com

http://Zedwood.com

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.


%d bloggers like this: