POEM

Sekedar sajak dan puisi sahaja.

Maut Bukan Tuanku.

Tuhan di tempat yang tinggi

Tak sanggup ku mendaki

Dari sana Dia turun

Memegang tanganku ke atas di tempat yang kudus

Menyangkul ku tak dapat

Berjualan ku merugi

Tapi, masih ada Tuhan

Firmannya mencukupiku

Aku hidup lebih bersuka

Dari sesiapa yang menyiapkan jeratnya sendiri

Tuhan dari tempat yang tinggi

Turun berbalutkan kehinaan

Hendak membinasakan kebinasaan

Menang atas dakwaan jerat maut

Pujilah Dia, penyelamat dunia!

Maut, engkau tidak punya sengat lagi

Sebab engkau lalai dalam tugasmu

Anak Manusia ditinggikan

Dalam namaNya, akupun selamat serta

Halleluyah, halleluyah!

Rabu, 14 Oktober 2015

Bukan Bayangan

Ketika sebuah bayangan dipandang sebelah mata
ketika sebuah senyuman menjadi bayangan kepedihan
ketika itu aku membalikkan badan dan menarik nafas panjang
agar senyum ini masih terlihat alami tanpa apa goretan kepedihan

sampai drama nyata ini berakhir
sampai saat itu aku akan tetap tersenyum
walau sebenarnya sakit ini mulai tak tertahan
aku akan tetap menegakkan kepala
seraya menjaga agar tak setestes air mata pun terjatuh…

By : Marison

Mimpi

Ku basuh wajah dengan air

berharap akan menghilangkan sedikit kepenatan ini

sesaat ku tutup mata ini

agar tidak setetes pun air mata ini terjatuh

mencoba tersenyum dalam jeritan kesedihan

kurebahkan tubuh ini

berharap dalam mimpi akan menemukanmu

dan menjalin cerita keindahan

walau saat terjaga nanti aku harus siap

menatap sebuah kenyataan “itu semua hanya mimpi”

By : Marison

Minta maaf Tuhan II

Embun pagi tak terasa lebih dingin

Panas matahari tak hangatkan diri

Itu tanda kau tak di terima bumi

Tergores rasa bak tertikam

Dibasuh, rasa di siram beling

Itu tanda kau hina karna hianat

Tunggu azab-mu !

Tuhan tak izin kan engkau untuk mati !

Bahkan sedikit upah baikmu yang beri engkau izin mati

Tak hayal jika engkau di pasung dalam dunia Yang mati !

Engkau hina bina, siapa kau kira dirimu !

Kini membusung angkuh merekuh

Pergi sana, menta maaf pada TUhan

Minta ampun hingga tak datang karma

Bilang, engkau memang tak paham dan Dia Yang empunya

Sabar engkau bertidak buat dan berkata

Kau kira sudah berapa lama Dia menahan

Menahan diri maafkan engkau, yang selingkuh darinya

Dari sumber cinta, kasih dan maaf yang selalu penuh seluruh

Senin, 18 Des

Tangisan Putri Langit (Untuk sahabat yang berpulang)

Tersentak laraku

Terenyuh jantung, ku hela nafas dalam

Terkejut picut bertabur air mata

Hatiku benar-benar lara

Sejuta kisah yang berjalan oleh waktu dan nyatanya perpisahan

oleh karena indahnya persaudaraan dan satu darah

Kakakku, tak sanggup hati untuk menangisi kebebasanmu bercengkrama dengan Yang Empunya

Biarlah Yang Empunya menyambut tangamu yang kini telah lepas bebas

Aku berdoa kiranya engkau tak tercecer di kawanan pengikutNya

Tunggulah kami yang masih berjuang di jalannNya.

Kucatat 10 Des 2011 sang Kakak berpulang, kiranya Tuhan Menyambutmu ramah.

Parsaoran Joshua Manullang RIP

Kamis, 15 Desember

Secarik Kertas dan Tanda Perjuangan

Aliran darah dan urat raut wajah terpancar optimis

Menari lentiknya jari di atas kerontangnya lembaran-lembaran tanpa bisik

Serasa menggempur dengan mata dan fikir

Pejuang tak akan henti jikalau hari tak kunjung berahkir

Jikalau yang nyata tak sampe bimbang

Hingga diakhir di hargakan dengan secarik kertas

Yang bercapkan tanda perjuangan dan nama yang tampak yakin tegar tegas

Aku masih berjuang, tak fikir tentang pilih-pilih untuk hidup

Yang kutahu, aku masih mengenyam yang ku tak tahu menahu

Minta maaf Tuhan

Aku berdiri di negeri pemberianMu yang entah beranta ini

Berlari, namun tak hingga-hingga

Fikir dan angan tak ayal juga menemukan jejak kakimu di awan-awan

Di ulang tahunmu, segala puji di panjatkan

Segala syukur jadi sesajen

Aku mau minta maaf, ijin untuk mohon maaf Tuhan

Segala perkara atas dirimu ialah hidupku, Amin

Sabtu, 10 Desember

Bilakah Tuhan Berhenti Jatuh Cinta ?

Seluruh isi bumi terbentang

Empunya menjadi Yang awalan

Tiada satu yang lepas untuk bersujut syukur

Ikrar kita untuk tetap sujud sembah padaNya

Ampunkan dosa, penuhkan berkat , isi setiap do’a

Malaikat pun tak penat ,ingatkan segala Umat

Untuk merunduk kepala tanda taat pada Pemilik jagat

Tuah benar penuh seluruh

Untuk tetap sayangi Umat

Hanya satu pinta Sang Empu Jagat

Angkara murka jangan di buat

Niscaya lepas dari bahaya

Besar benar kasih Mu ya Tuhan

Kami yakinkan bagimu untuk tetap penuh cinta

Dan penuh yakinku Engkau tak akan henti memberi cinta kasih ke dunia

Selasa, 6 Desember

Ruang Biru Yang Sempit

Seraknya suara hati berkata-kata untuk memaki sempitnya sudut ruang ini, bahkan hati yang kesal kesah tak akan mampu melepaskan dahaga amarahnya.

Berantakan pancaran bola mata memandangi benda hidup yang pancarkan cahya terang namun tak bernyawa ini. Hati renyuh apabila tiada guna baginya terpasang rapi namun tak hanya berayuh pada lamunan tiada isi.

Oh..ruang biru sempit yang mendekapku hingga nafas harus tertatih untuk melepas alunan suara kehidupan insan. Namun ini tak kan mau buat Aku kecewa, dia mau menampungku walau tiada arti ketika ku bantu dia untuk sedikit bercekerama melepas segala kebosanannya menunggu hal yang bahkan dia tak pernah fikirkan dari kini dan masa-masa mendatang.

Tiada pernah ia merintih ketika aku bergelegar, sibuk tiada tau diri aku lepas kendali dan dia tetap bersamaku untuk menemani disaat-saat ku berjuang demi masa yang kini aku belum mampu ramalkan.

Terima kasih atas setiamu menemani untuk berdikari, engkau nampan kehidupan yang kian sengah ini, wahai ruang biru yang sempit..

Jum’at 18 Nov

Mengenang Hari

Aku melalui hari ini bersamaan dengan seluruh rencana yang belum aku putuskan untuk menyelesaikannya. Selaras bersama tibanya permulaan hari, Aku aturkan segala puji syukur bagi Sang Empunya. Kuucapkan mantra kepada yang Agung, berisi pesan bahwa aku taat padaNya.

Jagad raya terlihat terang, seluruh elemen kehidupan menari-nari. Akupun ikut berdansa ria dengan iringan suara merdu tanpa gema dari angin bertiup. Tak mampu Aku berdiri diam, Ku alirka seluruh semangat untuk menyemarakkan pesta pertemuan bersama semesta dan makluknya, Akupun terhanyut, jika aku terdiam dalam semaraknya pesta ini, maka bagianku untuk tertawapun segera lenyap oleh sunyinya angin pengigat derita, Aku terus sadar diri, tubuhku tak akan berhenti, hinga iringan suara angin tanpa gema yang kian merdu diresap berhenti nanti.

Aku ingat hari-hariku sebelum tidurku tiba setelah angin berhenti bertiup merdu.

Rabu  23 Nov

1 Comment Add your own

  • 1. adadech  |  May 2, 2012 at 3:55 pm

    ajiiiibbbbb…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d bloggers like this: